Di Saat Yang Lain Mengguncang Media, Saatnya Kembali Mengguncang Dunia

Tidak sedikit pemuda Indonesia terutama mahasiswa, yang punya mimpi besar untuk negeri ini.  “Perubahan, revolusi, perubahan, revolusi”, setiap hari mengguncang media bak ombak di pantai. Tapi apa yang membuat mereka (termasuk saya) lupa bercermin, melihat pribadi lebih dalam. Sudah sejauh mana pergerakan yang kita ciptakan sehingga mulut kita pantas untuk menyerukan perubahan?

Jangan dikira “gerombolan si Berat” takut dengan ancaman para mahasiswa perusuh yang mengaku sebagai revolusioner, jangan dikira Soeharto tumbang akibat ulah mahasiswa yang menduduki gedung Senayan. Lalu setelah Soekarno tumbang ketika itu, siapa yang kemudian bertanggung jawab kemudian Indonesia kembali dalam ruang kediktatoran. Pemuda memang sebagai agen penggerak yang sangat berpotensi dan punya kekuatan yang besar sekali, tetapi kerap lupa dengan arah ambisi yang mereka buat sendiri, sehingga mudah saja dikelabui kaum-kaum tua yang ada di seberang jalan.

Pemuda yang mengaku mahasiswa, punya cita-cita yang besar membangun negeri. Tidak harus turun ke jalan berteriak memamerkan urat leher. Ketegangan di jalanan lebih mulia lagi apabila diarahkan langsung tepat sasaran, turun ke masyarakat menyampaikan hasil karya nyata yang kita buat dengan jerih payah kita sendiri. Penyebab lambannya pembangunan mungkin salah satunya karena lebih banyak orang yang berbicara menuntut ini itu tanpa bisa apa-apa, apa lagi membuat sesuatu yang berarti. Miris terkadang melihat kaum elit berdebat di layar kaca dan tidak sedikit di antara mereka yang bertengkar, tanpa ada hasil, malahan bersifat provokatif. Belum bisa membuat sesuatu sudah banyak melontar tuntutan, belum menghasilkan manfaat sudah takut tidak dihargai, belum mengatakan apa-apa sudah takut dikritik. Kritis itu sangat dibolehkan, tetapi tetap visioner, jelas kemana arah tujuan, dan kemana kritikan itu harus disampaikan.

Yang marak sekarang, banyak golongan yang cuma berani berbicara, tampil seolah sebagai pahlawan pembela bangsa. Berbicara tentang rakyat, tetapi bertemu langsung dengan masyarakat pun belum pernah. Dan yang lebih parah, hanya berkicau di situ-situ saja, berkomentar tentang kebusukan pemerintah, seolah-olah pernah merasakan menjadi seorang presiden di negeri nan luas dan beragam ini.

Sekali lagi saya tekankan, “mahasiswa”, kaum intelek bangsa ini. Belajar yang rajin, mengaplikasikan ilmu, menjadi ahli di bidang masing-masing, turun langsung ke masyarakat demi menyampaikan karya nyata, sangat jauh lebih puitis dibandingkan memperbanyak pembicaraan kosong demi mendapat simpati masyarakat. Dunia ini semata-mata butuh bukti kawan, tidak hanya wacana. Dalam keadaan saat ini, diam sungguh berharga dari emas itu sendiri.

Ada lagi yang mau bicara?

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: