HUT Kemerdekaan RI – Refleksi Jiwa Bangsa Indonesia

“Memaknai sejarah, mengumpulkan kekuatan, optimis menyongsong kemajuan di masa depan..!! “

 

 

Peringatan hari ulang tahun yang setiap tahun kita peringatkan selayaknya suatu alarm global bagi rakyat Indonesia, dalam mengenang jasa para jenius negarawan yang telah mendahului kita. Mereka dengan gagasan brilian telah membawa pemikiran yang hingga kini masih dipegang teguh oleh kita semua yaitu Pancasila dan UUD. Memang terlihat seperti rutinitas yang sengaja diulang-ulang saja, ketika tiba tanggal 17 Agustus, serentak seluruh rakyat dibanjiri euforia kemerdekaan, di situ terngiang tentang kesejahteraan, kebahagiaan, keadilan, dalam pidato tahunan sang pemimpin, memberi angin segar dan harum. Penghuni kolong jembatan, gelandangan, orang-orang miskin kelaparan seakan mendapat jaminan bahwa penderitaan mereka tidak akan lama lagi akan berakhir. Semoga saja.

Mari kita lihat 66 tahun yang lalu, para ahli, para pejuang, para pendidik serentak kompak mengumpulkan kekuatan demi merebut kemerdekaan yang sudah menjadi milik kita semenjak raja-raja kuno masih berkuasa. Di tengah kondisi negara yang sangat memprihatinkan, pendidikan yang jauh dari standar, jiwa-jiwa mulia dengan berani mengatakan tidak pada kolonialis, dan bekerja keras demi sebuah pergerakan. Soekarno, Hatta, Syahrir, dll, sosok yang dinanti-nanti saat itu untuk menjawab keluh kesah rakyat dan keputusasaan. Inilah kekuatan mereka. Mental kepemimpinan penuh cita-cita yang diwariskan hingga saat ini tetap membekas membatu dalam diri tiap manusia Indonesia.

Tidak mudah memaknai sebuah kemerdekaan, waktu 66 tahun pun bahkan belum cukup dirasa. Dalam 23 tahun pertama semenjak 1945, tantangan begitu besar, pembelajaran tentang demokrasi, dari sistem presidensial hingga terpimpin. Arena ini dijadikan wadah belajar paling bersejarah bagi Indonesia, di mana balita yang mencoba untuk bangkit kemudian jatuh, hanya bentuk roda berkehidupan di tengah ambisi dan keegoisan banyak pihak. Setelah itu ada kekuatan militer yang berkuasa, pembangunan dan pengembangan dinomorsatukan, kekuatan terpusat, ekonomi kuat, rakyat diam, tak berani bergumam. Sehingga dibutuhkan 32 tahun lagi untuk belajar melihat arti dari sebuah reformasi. Di awal reformasi juga tidak mudah. Korupsi, pers yang melebihi batas, rahasia-rahasia terkuak, wakil rakyat yang meledak, budaya kesenian dan pulau yang dirampas, mafia, dan masih banyak lagi. Semua tersistemkan dengan rapi semenjak gelora reformasi dikumandangkan. Banyak yang mempertanyakan tentang apa saja yang akan direformasi, sistemnya? Atau orang-orangnya? Reformasi yang belum tuntas itulah yang menjadi agenda pekerjaan rumah kita hingga hari ini. Pelajarilah, lalu selesaikan!

Apa yang terjadi sekarang? Apakah tetap meratapi nasib yang seperti ini? Pancasila dan UUD bukan sekedar pajangan di dinding-dinding sekolah. Tidak banyak orang menyadari roh yang dikandung dalam tulisan-tulisan itu. Betapa besar pengorbanan, tumpah darah, dan kemuliaan sejarah yang ditorehkan oleh mereka para pelopor. Betapa banyak kepentingan orang yang dipikirkan hingga lahirnya gagasan itu. Apakah kesejahteraan, keadilan, kebahagiaan bagi seluruh rakyat Indonesia akan tetap bertengger di panggung bernamakan “mimpi dan cita-cita” saja?

Para generasi muda yang berhak menjawab pertanyaan di atas!

Bapak Anies Baswedan mengatakan bahwa kesejahteraan rakyat yang ada dalam pancasila dan UUD adalah sebuah janji kemerdekaan! Benar sekali. Ini menandakan bahwa semua itu memang harus direalisasikan oleh segenap rakyat, seluruh golongan, tidak terkecuali. Bukan hanya jadi puisi indah bersama kibaran merah putih. Ini sudah jadi kewajiban kita sebagai warga negara Indonesia yang sadar tentang nilai-nilai kemerdekaan.

Tidak ada lain yang patut kita pertaruhkan demi kemajuan di masa depan selain sikap POSITIF dan OPTIMIS terhadap semua hal di negeri ini. Di tengah-tengah keterpurukan, bukan keluhan dan ratapan yang semestinya digembor-gemborkan, hanya akan menambah penderitaan saja karena energi negatif yang kita tanam dalam-dalam di hati sanubari kita sebagai bangsa yang putus asa tetap akan tumbuh menjulang. Pemuda indonesia, yang memiliki ambisi positif, yang kerap mengutamakan pemikiran kepentingan global, yang akan siap mengembalikan tatanan jiwa-jiwa hampa dan sepi bangsa Indonesia yang telah sekian lama jatuh, untuk bersiap mengumpulkan kekuatan penuh demi kemajuan dan kemerdekaan yang sebenar-benarnya di masa yang akan datang. Kapan itu semua terlaksana? Seberapa siap kita menunaikan kewajiban untuk mewujudkan kemerdekaan hakiki? Sudah pantaskah kita dikatakan sebagai agen perubahan? Hati nurani kita lah yang berani menjawab!

“Dirgahayu Republik Indonesia, terbanglah tinggi garudaku”

PEMUDA INDONESIA

Febry Irfansyah_Semarang – 16/8/11

1 comment so far

  1. ilma on

    mantap!
    ayoo rajin nulis lagi🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: