Catatan pesan untuk kebudayaan Indonesia

Tiba-tiba perasaan jadi berubah gelap ketika mendengar kabar bahwa salah satu budaya nasional kita yaitu “tari pendet” yang berasal dari pulau dewata ini diklaim oleh negera tetangga. Entah apa yang menjadi alasan konkrit mereka sehingga merasa telah melahirkan budaya ini yang jelas-jelas seluruh dunia telah mengetahui dan mengakui bahwa tarian indah yang selalu dibawakan oleh gadis-gadis bali tersebut memang tercipta di negeri kita tercinta.

tari-pendet
Tidak jelas duduk perkara yang terjadi dalam kondisi nasional saat ini. Sangat banyak krikil-krikil penghalang yang datang untuk menjatuhkan barisan yang siap untuk dijalankan. Sayang sekali apabila krikil-krikil itu dibiarkan begitu saja. Sejenak mendengar pembicaraan kerabat di salah satu situs jejaring sosial yang mendiskusikan tentang hal ini. Ada yang mengatakan bahwa sudah jelas karena kinerja pemerintah yang kurang perhatian dengan budaya nasional. Memang sudah ada sebuah departemen yang menangani masalah budaya seperti ini, tetapi kenapa masalah hak paten tetap saja bisa kecolongan?

Pertanyaan di atas ditujukan bukan hanya untuk pemerintah, tetapi juga untuk kita sebagai rakyat yang sedang mendengar berita duka ini. Sekarang yang paling patut dilakukan bukan hanya menuduh pemerintah kita yang tidak-tidak, menyesalkan telatnya proses paten budaya, dsb, tetapi bagaimana caranya mencari solusi terbaik guna memberhentikan suatu gelombang yang kuat dan datang silih berganti ini. Ibu pertiwi tampaknya telah letih dengan tempaan yang bertubi-tubi, dan ini saatnya para pemuda mengambil langkah demi membantu pemerintah yang mungkin sudah jenuh dengan tanggung jawabnya sendiri. Bukan bermaksud menghakimi mereka yang memiliki wewenang, tetapi sudah sepantasnya pemuda Indonesia mengambil tindakan konkrit demi nasib bangsanya.

Berawal dari suatu cerita, kebetulan cerita ini saya dapatkan dari kawan lama. Ternyata sudah ada fakta nyata tentang dampak “kecelakaan budaya” ini. Sebaiknya cerita di bawah dibaca baik-baik, di akhir nanti akan ada pesan singkat dari si penulis cerita.

Kisah sedih dialami Desak Suarti, seorang pengerajin perak dari Gianyar, Bali . Pada mulanya, Desak menjual karyanya kepada seorang konsumen di luar negeri. Orang ini kemudian mematenkan desain tersebut. Beberapa waktu kemudian, Desak hendak mengekspor kembali karyanya. Tiba-tiba, ia dituduh melanggar Trade Related Intellectual Property Rights (TRIPs).
Wanita inipun harus berurusan dengan WTO.”Susah sekarang, kami semuanya khawatir, jangan-jangan nanti beberapa motif asli Bali seperti `patra punggal’, `batun poh’, dan beberapa motif lainnya juga dipatenkan”, kata Desak Suarti dalam sebuah wawancara.Kisah sedih Desak Suarti ternyata tidak berhenti sampai di sana . Ratusan pengrajin, seniman, serta desainer di Bali kini resah menyusul dipatenkannya beberapa motif desain asli Bali oleh warga negara asing.

Tindakan warga asing yang mempatenkan desain warisan leluhur orang Bali ini membuat seniman, pengrajin, serta desainer takut untuk berkarya.Salah satu desainer yang ikut merasa resah adalah Anak Agung Anom Pujastawa. Semenjak dipatenkannya beberapa motif desain asli Bali oleh warga asing, Agung kini merasa tak bebas berkarya. “Sebelumnya, dalam satu bulan saya bisa menghasilkan 30 karya desain perhiasan perak. “Karena dihinggapi rasa cemas, sekarang saya tidak bisa menghasilkan satu desain pun,” ujarnya hari ini. Potret di atas adalah salah satu gambaran permasalahan perlindungan budaya di tanah air.

Cerita ini menambah daftar budaya indonesia yang dicuri, diklaim atau dipatenkan oleh negara lain, seperti Batik Adidas, Sambal Balido, Tempe, Lakon Ilagaligo, Ukiran Jepara, Kopi Toraja, Kopi Aceh, Reog Ponorogo, Lagu Rasa Sayang Sayange, dan lain sebagainya. LANGKAH KE DEPAN Indonesia harus bangkit dan melakukan sesuatu.

Hal inilah yang melatarbelakangi berdirinya Indonesian Archipelago Culture Initiatives(IACI), informasi lebih jauh dapat dilihat di http://budaya- indonesia. org/ . Untuk dapat mencegah agar kejadian di atas tidak terus berlanjut, kita harus melakukan sesuatu.
Setidaknya ada 2 hal perlu kita secara sinergis, yaitu: 1. Mendukung upaya perlindungan budaya Indonesia secara hukum. Kepada rekan-rekan sebangsa dan setanah air yang memiliki kepedulian (baik bantuian ide, tenaga maupun donasi) di bagian ini, harap menggubungi IACI di email: office@budaya- indonesia. org2. Mendukung proses pendataan kekayaan budaya Indonesia . Perlindungan hukum tanpa data yang baik tidak akan bekerja secara optimal. Jadi, jika temen-temen memiliki koleksi gambar, lagu atau video tentang budaya Indonesia , mohon upload ke situs PERPUSTAKAAN DIGITAL BUDAYA INDONESIA , dengan alamat http://budaya- indonesia. org/ Jika Anda memiliki kesulitan untuk mengupload data, silahkan menggubungi IACI di email: office@budaya- indonesia. org

Mungkin tidak banyak yang dapat kita lakukan demi keutuhan Negara kita dari hal terkecil hingga yang terbesar. Tetapi memang yang diperlukan saat ini adalah GERAKAN kita secara nyata, bukan cuma cercaan atau makian untuk oknum-oknum yang tidak jelas itu siapa.
Mari pertahankan budaya Indonesia..!!!

fbr

3 comments so far

  1. syawal88 on

    weh lumayan juga untuk sekelas pemula

  2. febryirfansyah on

    Syawal : mohon bimbingannya mas..(weekk cuiihh..hahaha)

  3. does on

    mas tolong budaya indonesia harus kita jaga agar tidak di klain lagi oleh negara laain,atau perlu kita iklankan pariwisata kita oleh negara-negaraa lain agar negara lain bahwa itulah budaya kita


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: