Ritual Geoscientist menuju pembangunan Jembatan Jawa – Sumatera

Telah lahir sebuah ide bombastis tentang pembangunan jembatan berskala besar yang akan menghubungkan Pulau Sumatera dan Pulau jawa sejak tahun 2004 silam hingga mendapat persetujuan dari pemerintah pusat setelah lama berbincang dengan gubernur seluruh Sumatera. Akhirnya pada waktu dekat ini mega proyek itu pun akan segera dilanjutkan. Dari pemberitaan media di tahun 2008 yang menyatakan

Pembangunan jembatan Jawa-Sumatera senilai Rp 90 triliun dipastikan akan terus dilanjutkan. “Tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara,” kata Ketua Forum Gubernur se-Sumatera Ismet Abdullah usai bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di kantor presiden.

Pertemuan gubernur se-Sumatera ini, kata Ismet, membahas infrastruktur di pulau tersebut. Selain jembatan antarpulau, Gubernur Kepulauan Riau ini memastikan rencana pembangunan jalan tol di Sumatera akan berlanjut.

Ismet juga menjelaskan bahwa pemerintah pusat memberikan wewenang penanganan jalan tol dan kelistrikan ke pemerintah daerah.

Pertemuan juga membahas masalah pembalakan liar di Sumatera. “Kami sepakat masalah ruwet tidak bisa jadi ukuran semata, tapi harus melihat ke depan,” kata Ismet. (tempo).

Terpampang jelas persetujuan yang didapat dari pertemuan tersebut hingga memaksa banyak otak untuk berpikir tentang kelayakan dan kemampuan pembangunan jembatan raksasa tersebut. Dibuktikan dengan berlangsungnya penyerahan hasil Pra Study Kelayakan Pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) kepada Gubernur Banten Ratu Atut Choisyiah dan Gubernur Lampung Sjachrudin ZP beberapa waktu yang lalu.

Jembatan

Dipastikan dari pemerintah akan melakukan sebuah studi pendahuluan yang akan melibatkan banyak pula ilmuwan yang sekiranya berhubungan dengan objek ini. Pada saat yang sama, para geoscientist juga tetap mengambil jatah lebih dan biasanya menjadi patokan terakhir dalam persetujuan pembangunan. Mengapa tidak? proses pembangunan tentu terjadi di bumi dan bumi sudah tentu merupakan nadi seorang geoscientist🙂.

Akhirnya setelah lama memeras otak, beberapa point penting juga keluar dan menjadi fakta utama dalam proyek “ambisius” ini. Dari sudut pandang geologi ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan. Para geoscientist menyimpulkan bahwa :

  • Jarak antar pulau tersebut ± 27,4 km.
  • Terdapat lautan (selat) yang dalam antara Jawa dan Sumatera.
  • Ketika peristiwa bencana Tsunami letak P. Sumatera bergeser terhadap P.Jawa. Hal ini jelas berkaitan dengan studi tektonika tentang pergerakan lempeng tektonika yang ada di Indonesia. Di sepanjang lepas pantai barat Sumatera, Lempeng Indo-Australian menunjam di bawah Lempeng Eurasia dengan arah yang miring (~45o).  Penunjaman miring tersebut mengakibatkan terbentuknya Zona Sesar Sumatera, suatu zona sesar geser menganan, yang memanjang dari ujung utara hingga ujung selatan Pulau Sumatera. (tentunya masalah ini ahli geologi yang lebih mengerti J). Intinya sesar geser yang ada di Sumatera masih tetap aktif bergerak.
  • Terdapat anak Gunung Krakatau yang kemungkinan bisa meletus menyamai G. Krakatau tahun 1883. Tahun 1883 setelah letusan terjadi tsunami raksasa yang mengakibatkan 30 ribu orang tewas dan kapal laut di selat Sunda sampai terlempar ke suatu bukit.

Point di atas mungkin hanya pendapat singkat dari beberapa pakar saja. Tapi siapa yang akan mengetahui pendapat ini yang memang akan menjadi jalan buntu mega proyek pembangunan jembatan Sumatera – Jawa. Kesimpulan yang sedikit berat untuk diterima adalah daerah di mana akan dibangun jembatan adalah suatu zona gempa yang hingga saat ini masih aktif, dimana faktor ini merupakan yang sangat penting untuk diperhatikan dalam proses pembangunan.

Memang sudah menjadi tugas seorang geoscientist untuk menganalisis kelayakan pembangunan yang dilihat dari aspek keadaan bawah permukaan bumi. Tetapi tugas seperti ini juga terkadang membuahkan kekesalan di berbagai pihak (biasanya ahli konstruksi :)) karena seringnya geologists menolak proyek pembangunan. Para ahli konstruksi menyiapkan rencana matang tentang proyek pembangunan, lalu karena di suatu daerah tersebut masih dipengaruhi oleh satu sesar aktif maka jelaslah geologist akan menolak hal ini. Saya kira geologist juga layak disebut seorang “Savior”, karena dengan ilmunya dapat meminimalisir terjadinya kejadian yang tidak diinginkan.

Dukungan demi pembuatan Jembatan Selat Sunda (JSS) datang dari banyak pihak. Semua mengakui bahwa pembangunan bernilai hingga 100 Triliun rupiah ini akan mendatangkan keuntungan yang setimpal bagi Negara, bahkan lebih. Fakta mengatakan bahwa selat Sunda merupakan arus penyeberangan paling ramai di Indonesia. Alangkah untungnya apabila arus lintas pulau ini dapat berlangsung terus menerus selama 24 jam non stop, tentu saja akan meningkatkan perkembangan ekonomi secara umum.

Arus perjalanan

Namun sebuah rencana tidak selamanya akan berjalan mulus. Buktinya pembangunan mega bridge antara Jawa dan Sumatera masih dilakukan studi kelayakan lebih lanjut. Menurut pengakuan Direktur Jenderal Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum Hermanto Dardak, hingga saat ini masih belum diputuskan bahwa di sana akan dibangun jembatan atau terowongan. Namun saat ini yang lebih prefer-able adalah jembatan yang memiliki fleksibilitas terhadap gempa karena daerah ini merupakan zona gempa yang cukup aktif.

Pada kasus demikian para geologist seolah-olah menjadi pemeran utama. Bayangkan saja ketika para ahli konstruksi dan ekonomi mengatakan proyek ini layak, maka geologist pun diharapkan mampu untuk mengatakan tidak.

Tetapi timbul beberapa pandangan negatif bagi seorang geologist. Banyak pendapatnya yang disangkal oleh orang-orang ketika mulai berbicara masalah kebancanaan seperti tsunami, longsor, dsb. Kasus yang paling mencolok adalah ketika peristiwa Situ Gintung belakangan ini. Para geologist dikatakan seolah-olah seorang POLISI INDIA yang datang ke tempat kejadian perkara (TKP) tepat setelah kejadian berlangsung. Mereka semua menyesalkan, kenapa pendapat-pendapat para geologist itu baru sekarang? kenapa baru ribut sekarang? Kira-kira seperti itulah yang pernah saya dengar dari ungkapan beberapa media. Pandangan demikian sebaiknya dijadikan pelajaran dan dijadikan motivasi untuk lebih maju dalam meminimalisir bencana.

Sangat diharapkan dalam studi kelayakan lanjutan berikutnya, peran seorang geoscientist dapat mengambil bagian yang besar. Bukan semata-mata karena dampak ekonomi seperti yang banyak dibicarakan orang, tetapi dapat dibayangkan ketika proyek raksasa ini ternyata menjadi rangkaian bencana tahunan di Indonesia yang dapat menelan banyak korban akibat ambisi semata dari segelintir orang.

(fbr)

1 comment so far

  1. ALI MURJANI on

    Ide yang cemerlang….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: