Catatan PUISI sebelum PUASA

Sekilas di sini akan dibahas mengenai hakikat tentang puasa yang selama ini menjadi ibadah rutin bagi seluruh umat islam di muka bumi. Alhamdulillah ternyata penantian selama kurang lebih satu tahun lamanya, akhirnya dapat kembali bertemu dengan bulan suci Ramadhan yang barakah dimana Allah SWT menyediakan kesempatan kepada kita semua untuk bisa mendekatkan diri kepada-Nya dengan bonus pahala ibadah yang berlipat ganda dibandingkan bulan-bulan lainnya. Berikut adalah pemaparan yang diambil dari beberapa referensi.

Image044

Puasa menurut Quran adalah dari kata “shiyam” yang merupakan bentuk jamak dari “shaum”, sebetulnya kurang tepat jika shiyam itu diartikan puasa sebab arti akar katanya adalah “to refrain” yang dalam bahasa Indonesia berarti “menahan diri” atau “menghindari berbuat sesuatu” jadi menahan diri dari rasa lapar (tidak makan dan minum) hanyalah merupakan salah satu bentuk dari “menahan diri” yang mempunyai arti luas.  Bahkan dalam Quran (19:26) diceritakan bahwa Maryam disuruh untuk shaum bicara (bentuk kata tunggal) atau puasa dari bicara atau tutup mulut saja, dan bukan berhenti makan dan minum sehingga membolehkan bayi Isa berbicara sebagai mukjizat. Kata shaum dan shiyam muncul 7 kali dalam Quran dan shiyam muncul dalam konteks atau thema disiplin diri dan juga muncul shiyam sebagai bentuk hukuman. Dalam surat Al-Baqarah  ayat 183 dijelaskan bahwa keharusan “menahan diri” ini sudah ditetapkan pada manusia melalui utusan-utusan jauh –jauh sebelumnya. Hal ini masuk akal karena “menahan diri” secara umum (bukan sekedar puasa) selalu menjadi unsur yang penting dalam hal disiplin diri terutama dalam hal memahami text wahyu Tuhan. Inilah sebetulnya konteks atau thema utama dalam surat Al-Baqarah itu, yaitu disiplin dalam memaham text Quran secara mandiri melalui shiyam.

“Bulan-bulan Ramadhan (shahrul ramadhana), dimana teks (Quran) diturunkan sebagai petunjuk (al-Huda) bagi manusia dan Pembeda/criteria (Furqon). Barang siapa dari kamu menyaksikan (shahid, to witness) bulan-bulan itu maka dia hendaknya shiyam. Dan barangsiapa sakit atau safar maka sejumlah yang sama dihari lain. Tuhan menginginkan kemudahan dan bukan kesulitan. Dan agar kamu dapat memenuhinya dan agungkanlah Tuhan yang mana Dia telah membimbingmu agar kamu berterima kasih” (Al-Baqarah 185)

Latar belakang/alasan adanya Shiyam

Latar belakang shiyam menurut Quran bermacam-macam  dan bukan karena datang bulan ramadhan saja (lihat catatan dibawah), tetapi memang salah satu yang terkenal adalah shiyam pada bulan-bulan ramadhan seperti pada  2:185 diatas yang ternyata alasan utamanya atau latar belakangnya adalah turunnya teks Quran yang merupakan petunjuk bagi manusia sehingga syarat seseorang melakukan shiyam ramadhan adalah dia harus terlebih dahulu shahid (terjemahan dari kata shahid adalah menyaksikan, menyadari, ‘to witness’ dan dapat pula diartikan ‘to declare’ atau menyatakan) akan petunjuk (huda) dan pembeda (furqon) dalam teks Quran yang dimaksud. Untuk dapat shahid maka logis apabila ia pertama harus membaca dan mengerti Quran. Justru hal penting inilah yang dilupakan orang dan berpikir bahwa shiyam yang nampak jelas kepermukaan adalah menahan lapar dan haus sehingga shiyam berubah menjadi acara ritual tanpa dibarengi proses perenungan dan pendalaman wahyu secara serius.

Pendapat umum yang dipercaya sekarang bahwa shahid yang dimaksud adalah perlunya orang/ulama atau lembaga keagamaan untuk menyaksikan datangnya tanggal musim ramadhan dengan melihat hilal (bulan sabit).  Tetapi apakah turunnya wahyu-wahyu itu selalu pada bulan ramadhan ? tentu saja tidak. Lantas kenapa diperingati pada bulan tertentu yang untuk itu dibuatlah nama bulan yang kita ketahui sekarang ? Oleh karena itu mestinya kata ramadhan pada saat  Nabi Muhammad hidup bukanlah nama spesifik bulan melainkan suatu rentang waktu dalam satuan waktu bulan dimana Nabi merenung (sehingga pemikir-pemikir baru mempercayai bulan ramadhan artinya bulan renungan) dan Tuhan menjawab dengan menginspirasikan wahyu-wahyunya. Menurut saya yang lebih penting   bukan peringatan kapan waktunya wahyu itu turun melainkan apakah wahyu itu telah menjadi pentunjuk bagi seseorang atau tidak ? Lagi pula perhitungan tanggal itu relatif  dan harus diingat pula pada masa Nabi Muhammad hidup dimana wahyu-wahyu Quran turun belum ada yang namanya kalender islam seperti apa yang kita kenal sekarang. Pada jaman nabi digunakan kalender arab lokal yang berdasarkan peredaran bulan (luni-solar) yang justru diadopsi pada kalender hijriyah.

Catatan : Perlu diketahui bahwa latar belakang shiyam bermacam-macam dan bukan hanya pada bulan ramadhan. Dalam teks Quran ada  shiyam sebagai hukuman apabila seseorang membunuh orang karena tidak sengaja yang lamanya 2 bulan (4:92). Shiyam karena ajakan ditolak orang ketika melakukan penyebaran memakmurkan Tuhan (melaksanakan tantangan/Hajj) (2:196).  Shiyam sebagai hukuman membunuh binatang pada masa terlarang atau saat bukan musim berburu( 5:95). Shiyam sebagai hukuman melanggar sumpah selama 3 hari (5:89).  Shiyam tidak berbicara (tutup mulut) yang dilakukan Maryam karena bayi Nabi Isa yang bicara (19:26). Shiyam selama 2 bulan sebagai hukuman bagi suami yang mengharamkan dirinya sendiri menggauli istrinya (58:4)

Kapan saatnya shahrul Ramadhana (perioda ramadhan)

Pertanyaan ini menuntut penemuan kembali dan pengertian asli dari kata “ramadhan” yang tidak umum diketahui orang melainkan orang hanya tahu bahwa Ramadhan adalah nama bulan dalam kalender Islam. Banyak orang terjebak dalam pemikiran atau anggapan Ramadhan adalah permulaan musim gugur (autumn) namun melupakan ajaran moralnya yaitu Ramadhan adalah kata yang berarti “renungan” atau “contemplation” atau dengan kata lain berarti pemikiran, refleksi, meditasi atau pembelajaran. Sebenarnya ulama tradisi bukan tidak tahu makna asli dari arti kata ramadhan ini, buktinya mereka menerangkan bahwa ayat pertama turun pada Nabi saat beliau merenung dan menarik diri ke gua Hira yang biasa ia lakukan menjelang musim gugur pada bulan September.  Nabi Ibrahim juga diterangkan sering melakukan kontemplasi (pemikiran dan perenungan) terhadap Dzat Tuhan.  Jadi Shahrul Ramadhan sederhananya berarti Bulan-bulan Renungan. Dimana manusia merenungkan Tuhannya dan bagi kita untuk mempelajari wahyu yang telah diturunkannya. Dan apabila ia ingin bersaksi dengan menyatakan (shahid) bahwa ia menerima petunjuk didalamnya maka ia melakukan shiyam, yaitu menarik diri dari kesibukan rutin dan alih-alih merenungkan Tuhannya dan masa-masa inilah dinamakan bulan-bulan perenungan atau dalam kata arab disebut shahrul ramadhana.  Para ulama tradisi bahkan mengajarkan ajaran itikaf dan merenung dimalam lailatul qadar dimana orang diam di mesjid dan membaca Quran yang menjadi bukti bahwa bukannya mereka tidak tahu apa makna arti dari kata Ramadhan.

Kapan waktunya seseorang harus merenung ? secara logika mestinya kapan saja dan tidak harus ada waktu yang ditentukan tergantung dari musim setempat yang memingkinkan orang mempunyai waktu luang. Untuk daerah yang berbeda maka ada musim yang berbeda pula dan tidak harus berbarengan pada saat yang bersamaan  sebab jika memang betul ramadhan adalah permulaan  musim gugur maka itu hanya berlaku pada bumi bagian utara (northern hemisphere) sedangkan pada saat yang sama pada bagian bumi selatan (southern hemisphere) justru kebalikannya yaitu musim semi. Ini berarti orang-orang yang berpuasa pada belahan bumi selatan selalu menyalahi bulan ramadhan ? Kalender bumi bagian utara tidak dapat dipaksakan untuk bumi bagian selatan dan sebaliknya dalam hal penentuan musim. Tetapi pada kenyataannya kalender Hijriyah yang notabene kalender bumi bagian utara dipaksakan berlaku pada semua tempat yang ada di bumi ini. Karena musim selalu bersifat ambigu (tidak pasti) maka tidak ada pemikiran lain yang lebih tepat jika ramadhan bukan berarti saat musim gugur di tanah arab melainkan saat dimana orang dimungkinkan pada musim itu mempunyai banyak waktu luang untuk merenung. Kesulitan logika lain adalah bagaimana untuk daerah di dekat garis khatulistiwa (equator) yang hanya mempunyai dua musim ? Marilah kita lihat apa kata Tuhan mengenai sistem kalender :

“Hitungan bulan menurut Tuhan adalah 12 bulan yang telah ditentukan dalam catatan Tuhan sejak hari pertama Surga dan Bumi diciptakan. 4 bulan diantaranya adalah hurumun (terlarang, dibatasi, restricted).  Ini adalah aturan yang baik, maka janganlah kamu membuat kesalahan didalamnya (4 bulan itu). Dan lawanlah orang yang menyekutukan Tuhan bersama-sama sebagaimana mereka melawanmu. Dan ketahuilah Tuhan bersama orang-orang yang senantiasa memperhatikan” (9:36)

Dalam ayat diatas tidak ada di sebutkan 4 bulan yang keberapa apalagi informasi nama-nama bulannya dan karenanya orang boleh mempunyai argumen  masing-masing dan berdebat sesuai dengan musim yang berlaku karena Quran tidak turun untuk orang yang berada di tanah arab saja jadi harus cocok dengan kondisi musim di suatu daerah tertentu diluar tanah arab dan setiap bangsa mempunyai kalender masing-masing. Tetapi secara prinsip dan  yang penting menurut Tuhan adalah bahwa dalam setiap satu tahun itu ada 12 bulan dan hendaknya 4 bulan diantaranya harus dijadikan saat-saat hurumun (masa terlarang yang dalam konteks duniawi adalah untuk menjaga sumber alam dan dalam konteks moral adalah masa dimana orang berhenti memikirkan keduniawian dan merenung).  Dalam Quran kata hurumun seringkali di sebut sebagai saat larangan berburu dan apabila kita lihat tanda-tanda alam maka populasi jenuh dan kurang-nya dari binatang buruan tergantung dari musim setempat. Sedangkan musim tergantung dari banyaknya sinar matahari yang masuk pada lokasi tertentu. Sedangkan banyaknya sinar yang masuk ke lokasi tertentu tergantung dari rotasi bumi yang berputar pada garis axis bumi yang miring 23,5 derajat.  Kemiringan bumi inilah yang menyebabkan adanya musim di bumi disamping factor sekunder lain seperti jarak dari samudra. Ada 4 keadaan yang mempengaruhi musim di bumi yaitu :
-   Equinox bulan Maret sekitar tanggal 20 an
-   Solstice bulan Juni sekitar tanggal 20 an
-   Equinox bulan  September sekitar tanggal 20 an
-   Solstice bulan Desember sekitar tanggal 20 an
Equinox adalah saat dimana matahari tegak lurus dengan equator sedangkan Solstice adalah saat dimana matahari mencapai titik terjauh dari equator bumi akibat dari kemiringan maximum poros putar bumi.  Daerah di sekitar equator tidak begitu terpengaruh sehingga tidak ada perbedaan iluminasi dan mempunyai 2 musim saja, sedangkan daerah yang jauh dari equator terpengaruh dan mempunyai  4 musim.  Musim dibelahan bumi utara berlawanan dengan musim dibelahan bumi selatan, jadi kalau di utara musim panas maka di selatan musim dingin dan begitu pula sebaliknya.  Jadi dalam hal perburuan binatang jelas Quran memerintahkan ke 4 bulan itu dimana terjadinya 2 equinox dan 2 solstice yang mempengaruhi populasi binatang buruan. Dan pada saat yang bersamaan bisa jadi karena kegiatan berburu dihentikan maka apabila ada orang musyrik yang menggunakan waktunya menyerang maka hendaklah kita lawan dengan memberikan amnesty selama 4 bulan apabila mereka kalah. Diperbolehkan juga kita offensive dengan menantang orang musrik dengan debat terbuka di bulan-bulan tersebut.

Pada masa sekarang walaupun pemanfaatan binatang liar masih dilakukan tetapi bukan sebagai bahan persediaan makanan yang pokok karena binatang liar sudah diganti dengan binatang domestic atau ternak.  Walaupun demikian konservasi binatang telah menjadi ketentuan Tuhan dan saat atau perioda dimana kegiatan perburuan dikurangi maka itulah saat yang baik untuk merenung. Dan  hal pertama yang harus dilakukan adalah orang harus shahid atau bersaksi atau ‘to declare’ (menyatakan, mendeklarasikan) bahwa ia telah menemukan sendiri atas petunjuk dalam Quran dulu dan ini dapat saja terjadi sembarang waktu, baru kemudian apabila telah menemukan kemudian merenungkannya dan menarik diri (shaum). Jadi persis seperti moral para calon Nabi-nabi yang senantiasa didahuli dengan berpikir akan Tuhan dan kemudian menemukan Tuhan melalui wahyu-Nya dimana untuk kita saat ini Quran telah sampai pada kita melalui mereka. Inilah inti ajaran Shiyam menurut teks Quran dan jelas bukanlah hanya merupakan acara ritual menahan lapar dan haus dan nafsu. Karena perenungan hanya dapat dilakukan oleh proses pemikirin dewasa maka Shiyam bukanlah untuk anak kecil karena akan mengaburkan arti penting dari shiyam menjadi puasa dari makan dan minum saja.

Apakah salah jika mengikuti waktu shiyam seperti pada umumnya ?

Tidak ada yang salah dengan penentuan waktu tertentu namun yang penting inti dari perintah shiyam bukanlah shahid dengan menyatakan kapan waktu bulan Ramadan itu akan datang, sebab kalender islam atau kalender hijriah yang kita kenal sekarang bahkan tidak dikenal oleh Muhammad sendiri sebab kalender hijriyah dibuat jauh setelah Nabi wafat pada tahun 632 masehi dan kalender hijriah baru ada pada tahun 638 pada jaman kalifah Umar bin Khatab. Pada jaman Nabi hidup kalender yang digunakan adalah kalender lokal (setempat) yang telah dipakai oleh bangsa arab yang juga berbasis bulan (lunar). Dan Umar memperkenalkan kalender hijriah yang diberlakukan surut yaitu jauh kebelakang saat terjadinya hijrah ke Madinah pada tahun 622 Masehi yang dianggap sebagai permulaan tahun Hijriyah dengan alasan untuk menyamakan point awal. Hal ini menyebabkan banyak kalangan menganggap syahid yang dimaksud dalam Quran adalah kesaksian melihat hilal bulan sabit dan bukan syahid atau kesaksian atas kebenaran Quran.  Padahal moral apa yang dapat diraih dari melihat bulan sabit ?.

Quran hanya mengetengahkan petunjuk perioda waktu atau mekanisme waktu bulan (shahrul) hanya untuk memberikan gambaran kapan waktu dimulai dan kapan selesai yang mudah dan jika perlu dapat dilihat yaitu dengan pergerakan bulan. Dan tidak menuntut ketepatan sampai ke sekian menit seperti apa yang diterbitkan oleh majelis keagamaan.  Kita ambil contoh rentang waktu shiyam menurut Quran :

“…. Dan kamu boleh makan dan minum sampai garis putih membedakan garis hitam saat fajar menyingsing. Kemudian dirikanlah shiyam sampai malam. Dan jangan gauli istrimu saat kamu melakukan dedikas ini…..”  (2:187)

Apakah hubungan Shahrul Harama dan Shahrul Ramadhana dengan Shiyam ?

Dalam teks Quran selain terdapat kata shahrul Ramadhan ada juga disebut istilah lain yaitu Shahrul Harama. Dan Quran tidak menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah bulan muharam dalam kalender Islam sebab Shahrul Harama (bulan terlarang) ini dipakai untuk menerangkan semacam ‘gencatan senjata’ yang waktunya dapat terjadi kapan saja baik pada masa lalu maupun pada masa-masa yang datang jika terjadi peperangan. Dan jika kita kembalikan pada arti teks maka shahrul harama artinya adalah bulan-bulan haram atau bulan-bulan terlarang (restriction) atau menurut kosa kata terlarang artinya terbatas (limitation) atau keadaan yang dikontrol.  Maka segera terlihat bahwa shahrul harama sangat dekat kaitannya dengan shiyam yang berarti menahan diri (to refrain) atau membatasi diri (to limit). Dan oleh karena itu masuk akal jika ada dua istilah masa dalam hitungan bulan dalam Quran termasuk Shahrul Ramadhana dan Shahrul Harama yang mana instrument maha penting dari kedua bukan itu adalah shiyam yaitu menahan diri.

Bagaimana melakukan Shiyam pada bulan Ramadhan

Dalam Al-baqarah 183-184 :

“Hai orang bagi yang percaya, diwajibkan atas kamu shiyam seperti di perintahkan pada orang sebelum kamu.  Yaitu Beberapa (ma’dudat)  hari tertentu”

Ternyata kata dalam bahasa arab yang dipakai yaitu ma’dudat yang biasa dipakai untuk menunjukan bilangan kecil yang dapat dihitung dengan jari tangan (bilangan 3 sampai 10). Karena itu benar  jika diterjemahkan sebagai ‘beberapa hari’ oleh DEPAG.  Kata beberapa dalam bahasa inggris adalah ‘few’ atau ‘several’ yang biasa digunakan untuk menunjukan bilangan dari 3 sampai paling banyak 10.  Bukti lain pada 2:203 kata ma’dudat juga dipakai untuk mengatakan bilangan 3. Jadi apabila ualam mengatakan 30 hari tentunya tidak dapat dikatakan beberapa hari melainkan banyak hari.  Disamping itu terasa janggal jika ada kalimat ‘beberapa hari dalam bulan Ramadhan’ itu sama dengan 30 hari.  Beberapa hari tertentu dalam satu bulan Ramadhan pasti merupakan bilangan lebih kecil dari seluruh jumlah hari dalam sebulan atau lebih kecil dari 30 hari.

Lantas pertanyaannya sekarang berapa bilangan yang dimaksud beberapa hari itu ?

Ini menuntuk penyelidikan dari system bilangan dasar yang dipakai Quran karena kita mengenal banyak mengenal system bilangan dasar seperti 10 (decimal), hexadecimal, biner dan lain-lain. Dan untuk itu penting untuk diketahui bahwa ada istilah dalam Quran menyatakan dalam 2:196 berupa kata “A’shoratun Kamilat” yang artinya ‘sepuluh yang sempurna’.  Sehingga kita tahu pasti bahwa Quran memakai sistim bilangan berbasis 10 bilangan yang artinya setelah bilangan 10 tercapai sempurna maka bilangan selanjutnya adalah berupa pengulangan dan kombinasi bilangan-bilangan sebelumnya.

Jelasnya Tuhan menggunakan kata “tukmilu” yang berasal sama dengan “Kamilat” dalam sebagai berikut :

“…..Dan hendaklah kamu (shiyam) menyempurnakan (tuk’milu) bilangannya …….”

Sehingga dengan demikian jelas bahwa yang dimaksud dengan menyempurnakan bilangan adalah mencapai angka terakhir dari basis sepuluh yaitu10 hari.  Hal ini menjadi konsekwen dengan kata ‘ma’dudat’ yaitu hanya beberapa hari dalam bulan Ramadhan. Berikut adalah terjemah perintah menyempurnakan bilangan shiyam itu (2:185)

“(Beberapa hari yang ditentukan itu adalah) pada bulan Ramadhan, bulan yang diturunkan didalamnya Al-Quran sebagai Al-huda (petunjuk) dan Al-Furqon (Kriteria). Barangsiapa bersaksi (shahid) atas itu maka hendaknya kamu shiyam. Tetapi siapa yang sakit atau safar (dalam perjalanan) maka sebanyak hari yang sama pada hari lain dibulan itu. Tuhan menghendaki kemudahan dan bukn kesukaran bagimu. Dan sempurnakanlah (tukmilu : berasal dari akar kata yang sama dengan kamilat pada 2:196) bilangannya dan membesarkan Tuhan atas petunjuk yang telah diberikan padamu agar kamu bersyukur” (2:185)

Shiyam harus sampai malam bukan maghrib saat masih terang !!

Satu hal yang salah menyalahi teks Quran adalah orang berbuka makan dan minum saat dimana cahaya matahari masih terang pada waktu maghrib padahal Quran tidak mengatakan “shiyama ila maghribi” melainkan “ shiyama I’la laili”  (lihat 2:187) yang artinya “shiyam sampai malam”.   Kata malam atau lail dalam bahasa arab adalah kondisi waktu setempat dimana hari sudah gelap atau matahari sudah sempurna tenggelam dan untuk mengetes gampang saja yaitu apabila orang ditanya pasti akan mengatakan malam karena memang sudah gelap.  Coba anda lakukan tes kecil dengan menanyakan pada orang yang lewat pada saat maghrib sekitar jam 6 sore dimana masih agak terang dan tanyakan apakah hari sudah malam ? pasti akan menjawab belum atau ragu-ragu. Tapi coba tunggu sampai jam 7 malam dan tanyakan pertanyaan yang sama maka orang yakin akan mengatakan hari sudah malam.  Orang yang merasa pintar mengatakan bahwa yang dimaksud itu adalah saat datangnya malam padahal kata arabnya tidak ada kata datang atau menjelang malam. Kenapa kalimat  “shiyama ila lail” yang persis artinya “shiyam sampai malam” dipersulit dengan tafsir yang tidak-tidak ?  Bukankah ini usaha setan agar shiyam orang jadi batal karena berbuka belum saatnya ?

Maka dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan yaitu, Puasa Ramadhan menurut Quran adalah suatu proses perenungan dari seseorang ketika ia pertamakali menyaksikan kebenaran dari Quran dan di bulan itu (bulan apa saja tergantung kapan ia mengakui kebenaran Quran) maka hendaknya ia menarik diri dari urusan keduniawian dan merenung/belajar  sambil berhenti makan dan minum dari pagi sampai gelap malam selama 10 hari. Apabila berhalangan maka shiyam boleh tidak langsung dilakukan sepuluh hari asalkan digenapkan menjadi 10 hari pada bulan yang sama.  Shiyam atau puasa oleh ulama dijadikan acara keagamaan rutin dari menahan lapar haus dan nafsu akan tetapi syarat kesaksian atas Quran yang merupakan hal utama dikesampingkan, sehingga orang yang tidak bersaksi atas Quran dapat berpuasa dan merayakan pada hari raya.  Sehingga orang lupa akan Quran sebagai petunjuk dan Kriteria tetapi lebih mementingkan ritual puasanya saja sambil menunggu hari raya tiba untuk bergembira.  Betapa pintarnya ilusi syetan menipu manusia dengan acara ritual keagamaan dan terlupa dari hal yang lebih penting. (kedamaian)

Ya Allah, terimalah amal ibadah puasa kami di bulan Ramadhan ini.. amien..

puasa

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: